LampungPendidikan

Sekolah Rakyat Menjadi Jalan Pemutus Rantai Kemiskinan di Lampung

41
×

Sekolah Rakyat Menjadi Jalan Pemutus Rantai Kemiskinan di Lampung

Share this article

TATAR.ID, LAMPUNG SELATAN – Bagi sebagian anak, cita-cita bisa terasa seperti kemewahan yang tak terjangkau. Terhimpitnya keterbatasan ekonomi, tak sedikit dari mereka yang terpaksa melupakan bangku sekolah.

Semua demi membantu orang tua menjadi buruh, pekerja kebun, atau pekerja informal lainnya. Namun, harapan baru kini mulai bersemi di kawasan Kota Baru, Kabupaten Lampung Selatan.

​Melalui keberadaan Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 3 Provinsi Lampung, anak-anak dari keluarga rentan kini mendapatkan ruang untuk bermimpi kembali.

​Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, menegaskan bahwa hadirnya Sekolah Rakyat bukan sekadar memberikan fasilitas pendidikan gratis, melainkan menjadi instrumen strategi untuk memperluas akses pendidikan berkualitas dan memutus rantai kemiskinan antargenerasi.

​”Kalau derajat keluarga mau naik, kuncinya satu, anak harus lebih pintar dari orang tua,” ujar Gubernur Mirza di hadapan ratusan orang tua dan calon siswa dalam acara Open House SRT 3 Provinsi Lampung, Jumat (31/7/2026).

​Kisah perubahan itu nyata dirasakan oleh Muhammad Ridwan Pratama, siswa angkatan pertama Sekolah Rakyat.

Putra seorang buruh bengkel asal Sukaraja, Bandar Lampung ini menuturkan bagaimana kehidupannya bertransformasi sejak bergabung dengan sekolah tersebut.

Dahulu terbayang bayang-bayang keterbatasan, kini Ridwan aktif mengikuti berbagai kegiatan ekstrakurikuler mulai dari karate hingga renang.

Lebih dari itu, ia mulai memupuk impian besar untuk menjadi seorang chef profesional.

​”Senang banget, bahagia,” ungkap Ridwan dengan senyum mengembang saat menceritakan pengalamannya.
​Perkembangan Ridwan dan teman-temannya bukan kebetulan.

Gubernur Mirza menceritakan bahwa pada tahun pertama, program ini dimulai dengan mendampingi 71 siswa SMA melalui Program Keluarga Harapan (PKH).

Setelah satu tahun pelatihan berasrama, para siswa menunjukkan kemajuan pesat, mulai dari penguasaan bahasa Inggris, bahasa Jepang, hingga bahasa Arab.

​Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 3 Provinsi Lampung, Asis Prasetyo, menjelaskan bahwa lembaga yang awalnya hanya menyelenggarakan jenjang SMA kini telah berkembang pesat menjadi Sekolah Rakyat Terintegrasi mencakup tiga jenjang. 

​Sekolah Rakyat Dasar (SRD): 60 siswa
​Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP): 150 siswa.

​Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA): 191 siswa

​Dengan total 401 siswa saat ini, seluruh kebutuhan peserta secara penuh oleh negara, mulai dari asrama, seragam, perlengkapan belajar, konsumsi, hingga akses pembelajaran digital.

Selain penerapan Kurikulum Nasional, SRT 3 fokus pada pembentukan karakter, kedisiplinan, serta pengembangan potensi siswa melalui beragam aktivitas seperti. 

​Pengembangan Bahasa dan Akademik: Matrikulasi, literasi, English Club, dan pembelajaran berbasis proyek.

Ekstrakurikuler & Minat: Pencak silat, futsal, pramuka, paskibra, PMR, tari, hadrah, paduan suara, hingga handball.

Keamanan & Kenyamanan: Penerapan kebijakan ketat zero toleransi terhadap perundungan (bullying), kekerasan fisik maupun seksual, serta intoleransi.

​Untuk menyatukan tumbuh kembang siswa secara utuh, para guru juga secara rutin melakukan kunjungan rumah ke rumah orang tua murid saat masa libur sekolah.

​Gubernur Mirza berharap, selain berprestasi secara akademik dan keterampilan, para siswa tetap memegang teguh kearifan lokal Lampung, seperti nilai-nilai Piil Pesenggiri, Nemui Nyimah, Sakai Sambayan, dan Nengah Nyappur.

​”Anak-anak ini harus tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter, memiliki kepedulian sosial, dan kelak kembali membangun daerahnya. Kalian bukan hanya membawa harapan orang tua, tetapi juga harapan masyarakat Lampung,” pesan Mirza kepada para siswa.

​Mengusung semangat “Cerdas Bersama, Tumbuh Setara”, Sekolah Rakyat membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi tak lagi menjadi penghalang bagi anak-anak Indonesia untuk mencapai pendidikan berkualitas dan menatap masa depan yang lebih cerah.(*) 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *